Minggu, 08 Maret 2015

PRINSIP – PRINSIP PEMBELAJARAN



PRINSIP – PRINSIP PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganutan agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
 Mata pelajaran PAI yang digunakanpun itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al – Qur’an dan al – hadist, keimanan, akhlak, fiqh/ ibadah dan sejarah sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya                                                          
 Sehingga pendidikan agama Islam itu sangat penting untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati dan pada akhirnya mengamalkannya sebagai pandangan hidup. Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[1]
Pada Makalah ini akan dibahas tentang pengertian Pendidikan Agama  Islam, Prinsip-prinsip bembelajaran PAI.  
            
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan Agama Islam?
2.      Apa saja prinsip – prinsip pembelajaran PAI ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibrengi dengan tuntutan untuk menghormati penganutagama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. ( kurikulum PAI, 3: 2002).
Menurut Zakiyah Daradjat ( 1987 : 87 ) pendidikan agama Islam adalah usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati dan pada akhirnya mengamalkannya sebagai pandangan hidup.
Munculnya anggapan – anggapan negatif tentang pendidikan agama seperti Islam diajarkan lebih pada hafalan ( padahal Islam peuh dengan nilai – nilai ) yang harus di praktekkan. Pendidikan agama Islam lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara hamba dengan Tuhan – Nya penghayatan nilai – nilai agama kurang mendapat penekanan dan masih terdapat sederet respon kritis terhadap pendidikan agama. Hal tersebut disebabkan penilaian kelulusan siswa dalam pelajaran agama diukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian tertulis di kelas yang dapat didemonstrasikan oleh siswa.
Mata pelajaran PAI itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al – Qur’an dan al – hadist, keimanan, akhlak, fiqh/ ibadah dan sejarah sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya ( hablun minallah wa hablun minannas ).
Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[2]

B.     Prinsip – prinsip  Pembelajaran PAI
Kata prinsip berasal dari bahasa latin yang berarti “ asas” ( kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir, bertindak, dan sebagainya ); dasar.[3] Dalam bahasa inggris, prinsip disebut principle yang berarti a truth ar belife that is accepted as a base for reasoning or action. Yang berarti merupakan sebuah kebenaran atau kepercayaan yang diterima oleh dasar dalam berfikir atau bertindak. Jadi prinsip dapat diartikan sebagai sesuatu yang menjadi dasar dari pokok berfikir, berpijak atau bertindak.[4]
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, pengajar dilakukan oleh pihak guru, dan belajar dilakukan oleh peseta didik.
Jadi, prinsip – prinsip pembelajaran adalah landasan berfikir, landasan berpijak dengan harapan tujuan belajar tercapai dan tumbuhnya proses pembelajaran yang dinamis dan terarah.
Dari konsep belajar dan pembelajaran dapat diidentifiasi prinsip – prinsip belajar dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut.
1.      Prinsip Kesiapan ( Readiness )
Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik-psikis ( jasmani-mental ) individu yang memungkinkan subyek dapat melakukan belajar. Biasanya, kalau beberapa taraf persiapan belajar telah dilalui peserta didik maka ia siap untuk melaksanakan suatu tugas khusus. Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi, dan factor – factor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
Berdasarkan prinsip kesiapan belajar tersebut, dapat dikemukakan hal – hal yang terkait dengan pembelajaran, antara lain :
a.       Individu akan dapat dengan baik apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan kesiapan ( kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang pengalamannya ).
b.      Kesiapan belajar harus dikaji lebih dulu untuk memperoleh gambaran kesiapan belajar siswanya dengan jalan mengetes kesiapan atau kemampuan
c.       Jika individu kurang siap untuk melakukan suatu tugas belajar maka akan menghambat proses pengaitan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Karen itu, jika kesiapan sebagai prasyarat belajar maka prasyarat itu harus diberikan lebih dulu.
d.      Kesiapan belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan untuk menerima sesuatu yang baru dalam membentuk atau mengembangkan kemampuan yang lebih mantab.
e.       Bahan dan tugas – tugas belajar akan sangat baik kalau difariasi sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik yang akan belajar.
2.      Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu. atau siswa mendapatkan bimbingan secara teratur dengan langkah-langkah tertentu dan dapat pula menimbulkan motivasi yang kuat untuk belajar dengan giat. Disamping itu motivasi adalah sebagai pendorong untuk anak memperoleh nilai setinggi-tingginya .[5] ( Morgan, 1986 ). Ada tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi ia akan :
a.       Bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasaingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar.
b.      Berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut.
c.       Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terseleseikan. ( Worrel dan Stilwill, 1981).
Berdasarkan sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua :
1)      Motivasi intrinsik yaitu motivasi yang datang dari dalam diri peserta didik
2)      Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datang dari luar diri peserta didik
Dalam pengembangan pembelajaran pendidikan agam islam perlu diupayakan bagaimana agar dapat mempengaruhi dan menimbulkan motivasi intrinsik melalui penataan metode pembelajaran yang dapat mendorong tumbuhnya motivasi belajar dalam diri peserta didik sedangkan untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik dapat diciptakan suasana lingkungan yang religius sehingga tumbuh motivasi untuk mencapai tujuan PAI sebagaimana yang ditetapkan.
Berkenaan dengan prinsip motivasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran pendidikan agama:
a.       Memberikan dorongan ( Drive )
tingkah laku seseorang akan terdorong kearah suatu tujuan tertentu apabila ada kebutuhan. Kebutuhan ini menyebabkan timbulnya dorongan internal, yang selanjutnya mendorong seseorang untuk melkakukan sesuatu menuju tercapainya suatu tujuan. Setelah tujuan dapat dicapai biasanya intensitas dorongan semakin menurun.
b.      Memberikan insentif
Dalam kegiatan pembelajaran PAI juga diperlukan insentif untuk lebih meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Insentif dalam pembelajaran pendidikan agama islam tidak selalu berupa materi, tetapi bias berupa nilai atau penghargaan sesuai kadar kemampuan yang dapat dicapai peserta didik. Bila perlu insentif dapat diberikan kepada peserta didik secara bertahap sesuai tahap tingkatan yang dapat dicapainya.
c.       Motivasi berprestasi
Setiap orang mempunyai motivasi untuk belajar karena adanya kebutuhan untuk dapat berprestasi. Karena itu, guru perlu mengetahui sejauh mana kebutuhan berprestasi setiap peserta didik. Peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan mnyeleseiakan tugas atau masalah yang memberikan tantangan dan kepuasan secara lebih cepat. Peserta didik jenis ini memerlukan balikan setiap unjuk kerjanya dengan nilai atau pujian yang tepat dan sebaliknya peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi rendah, pada umumnya tidak realistic untuk mencapai tujuannya. Karena itu, tugas berat atau ringan bagi peserta didik jenis ini sma saja tidak ada pengaruhnya bagi tumbuhnya motivasi untuk berprestasi
d.      Motivasi kompetensi
Setiap peserta didik meiliki keinginan untuk menunjukkan kompetensi dengan berusaha menaklukkan lingkungannya. Motivasi belajar tidak bias dilepaskan dari keingnannya untuk menunjukkan kemampuan dan penguasaannya kepada yang lain. Karen itu diperlukan ketrampilan mengevaluasi diri, nilai tugas bagi peserta didik, harapan untuk sukses, patokan keberhasilan, kontrol belajar dan penguatan diri untuk mencapai tujuan. ( Worell dan Stillwell, 1981 ).


3.      Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat ketrampilan yaitu :
a.       Berorientasi pada suatu masalah
b.      Meninjau sepintas isi masalah
c.       Memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan
d.      Mengabaikan stimuli yang tidak relevan ( Worell dan Stillwell, 1981 )
Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya. Kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar pengaruhnya dengan begitu peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut diantara sekian banyak stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk mengarahkan dari pada tugas yang diberikan, melihat masalah-masalah yang akan diberikan memilih dan memberikan focus pada masalah yang harus diseleseikan dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak relevan.
Beberapa prinsip yang diajukan Chield (1977), yang perlu diperhatikan dalam mempengaruhi perhatian seseorang adalah :
a.       Memperhatikan factor-faktor internal yang mempengaruhi belajar, yaitu minat, kelelahan, karakteristik peserta didik,motivasi.
b.      Memperhatikan factor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar, meliputi intensitas stimulus, kemenarikan stimulus yang baru, keragaman stimuli, penataan metode yang sesuai dan sebagainya.
4.      Prinsip Persepsi
Umumnya, seseorang cenderung percaya pada sesuatu sesuai dengan bagaimana ia memahami sesuatu itu pada situasi tertentu. Persepsi adalah suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya ( Fleming dan Levie, 1981 ). Semua proses belajar selalu dimulai dengan persepsi yaitu setelah peserta didik menrima stimulus atau pola stimuli dari lingkungannya. Persepsi dianggap sebagai kegiatan awal struktur kognitif seseorang. Persepsi bersifat relatif, selektif, dan teratur. Karena itu, sejak dini peserta didik perlu ditanamkan rasa memiliki persepsi yang baik dan akurat mengenai apa yang dipelajari. Kalau persepsi peserta didik terhadapapa yang akan dipelajari salah maka akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan kegiatan belajar yang akan ditempuh.
Sekali peserta didik memiliki persepsi yang salah mengenai apa yang dipelajari maka untuk selanjutny akan sukar diubah persepsi yang sudah melekat tadi, sehingga dengan demikian ia akan mempunyai struktur kognitif yang salah ( Lawther, 1977 ). Agar persepsi dapat berfungsi secara aktif, kemampuan untuk mengadakan persepsi tentang sesuatu harus ditanamkan dan dikembangkan sebagai suatu kebiasaan dalam setiap memulai kegiatan pembelajaran.
Untuk membentuk persepsi yang akurat mengenai stimuli yang diterima serta mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan, perlu adanya latihan-latihan dalam bentuk dan kondisi situasi yang bermacam-macam agar perserta didik tetap dapat mengenal pola stimuli itu, meskipun disajikan dalam bentuk yang baru.
Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi yaitu :
a.       Makin baik persepsi mengenai sesuatu, makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut.
b.      Dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari.
c.       Dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat. ( Fleming dan Levie, 1981 ).
5.      Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan dan tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
Apabila seseorang belajar maka setelah selang beberapawaktu apa yang dipelajari akan banyak dilupakan dan apa yang diingatnya secara otomatis akan berkurang jumlahnya.
Dalam pembelajaran perlu diperhatikan prinsip – prinsip untuk meningkatkan retensi belajar seperti yang di ungkapkan dari hasil temuan Thomburg, 1984 yang menunjukkan bahwa:
a.       Isi pembelajaran yang bermakna akan lebih mudah di ingat dibandingkan dengan isi pembelajaran yang tidak bermakna.
b.      Benda yang jelas dan kongkrit akan lebih mudah diingat dibandingkan dengan benda yang bersifat abstrak.
c.       Retensi akan lebih baik untuk isi pembelajaran yang bersifat konsteptual atau serangkai kata – kata yang mempunyai kekuatan asosiatif dibandingkan dengan kata – kata yang tidak memiliki kesamaan internal.
d.      Tidak ada perbedaan antara retensi dengan apa yang telah dipelajari peserta didik yang mempunyai berbagai tingkat IQ.
Ada tiga factor yang mempengaruhi retensi belajar:
1)      Apa yang dipelajari pada permulaan ( original learning )
2)      Belajar melebihi penguasaan ( over learning )
3)      Pengulangan dengan interval waktu ( spaced review )
Disamping yang diusulkan dari hasil temuan Thomburg tersebut, Chauham tahun (1979) mengajukan cara – cara untuk meningkatkan retensi belajar, antara lain:
a.       usahakan agar isi pembelajaran yang dipelajari disusun dengan baik dan bermakna. Sebagai bukti, pembelajaran syair akan diingat sebanyak 58% setelah 30 hari, pembelajaran prosa akan diingat sebanyak 40% dan pembelajaran kata tanpa makna diingat sebanyak 28%.  
b.      Pembelajaran dapat dibantu dengan jembatan keledai ( macmonic ) karena akan meningkatkan organisasi materi yang dipelajari seperti akronim NIMIM ( Nuh Ibrahim Musa, Isa, Muhammad ) untuk meningkatkan nai dalam gelar Ulul Azmi.
c.       Berikan resitasi karena hal ini akan meningkatkan aktivitas peserta didik,
d.      Susun dan sajikan konsep yang jelas, misalnya dengan bantuan media audio visual
e.       Memberikan latihan pengulangan terutama untuk pembelajaran ketrampilan motorik.

6.      Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari.
Adapun beberapa bentuk transfer yaitu:
a.       Transfer positif, terjadi apabila pengalaman sebelumnya dapat membantu atau mempermudah pembentukan unjuk kerja peserta didik dalam tugas – tugas selanjutnya.
b.      Transfer negatif, terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya mengahambat atau mempersulit unjuk kerja dalam tugas – tugas baru.
c.       Transfer Nol, terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya tidak mempengaruhi unjuk kerja dalam tugas – tugas barunya.
Menurut Chauham (1979), transfer dapat diklasifikasikan ke dalam :
1)      Transfer horizontal, yakni apabila pengetahuan atau ktrampilan yang dipelajari sebelumnya dapat dialihkan kedalam proses mempelajari pengalaman yang setingkat atau dalam satu kategori. Bentuk transfer horizontal meliputi:
a)       transfer lateral yakni apabila pengetahuan atau ketrampilan yang dipelajari sebelumnya dapat diterapkan dalam situasi belajar didalam kehidupan tanpa pengawasan orang yang mengejar.
b)      transfer sequencial yakni apabila yang dipelajari sekarang secara positif ada hubungannya dengan apa yang akan dipelajari pada masa yang akan datang.
2)      Transfer vertikal, yakni apabila pemahaman tentang apa yang dipelajari sebelumnya dapat digunakan untuk memecahkan masalah – masalah yang lebih sulit atau yang berada pada jenjang pengatahuan yang lebih tinggi.
Selanjutnya, Chauham mengemukakan beberapa teori yang melandasi transfer dalam pembelajaran yaitu: 
a.       Teori disiplin mental ( mental discipline theory ), dimana seseorang dapat dilihat seperti badan yang terdiri atas bagian – bagian,.
b.      Teori unsur – unsur yang sama ( identical element ), dimana sesuatu yang dipelajari dapat ditransfer kedalam situasi lain selama terdapat unsure – unsure yang identik pada kedua macam pengalaman tersebut.
c.       Teori generalisasi, dimana transfer belajar dapat terjadi apabila sibelajar dapat memahami prinsip – prinsip umum, bukan pemecahan masalah yang bersifat spesifik. Tekanan dari teori ini terletak dalam intelegensi yang menyebabkan seseorang dapat memakai dan menerapkan pengetahuan tentang prinsip – prinsip yang satu situasi kedalam situasi lain.
d.      Teori transposisi, dimana terjadinya persamaan persepsi antara situasi dengan apa yang ada dalam bentuk umum. Belajar dapat menumbuhakan sesuatu dalam pola yang utuh atau dalam suatu konfigurasi yang mempunyai makna. Proses yang terjadi dalam transfer adalah
1)      Pengelompokan, generalisasi, dan strukturisasi materi.
2)      Terdapat hubungan dalam berbagai bentuk atau ukuran.
3)      Adanya struktur dalam.
4)      Adanya proses berfikir konsisten. [6]




























BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
                      
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
prinsip – prinsip pembelajaran adalah landasan berfikir, landasan berpijak dengan harapan tujuan belajar tercapai dan tumbuhnya proses pembelajaran yang dinamis dan terarah. Dalam pendidikan agama Islam memiliki prinsip-prinsip untuk melekukan pembelajaran yang diantaranya:
1.      Prinsip Kesiapan ( Readiness )
2.      Prinsip motivasi
3.      Prinsip perhatian
4.      Prinsip persepsi
5.      Prinsip retensi
6.      Prinsip transfer.










DAFTAR PUSTAKA
Majid, Abdul.  Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 3. cet.I.  Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Echols, John M. dan Shadaly, Hassan. Kamus Inggris Indonesia Cet. XV. Jakarta: PT. Gramedia, 1987.

Usman, Basyiruddin. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.  








[1] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006 ), 130 – 132.
[2] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006 ), 130 – 132.
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 3( cet.I Jakarta: Balai Pustaka, 2001 ). 896.
[4] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia Cet. XV ( Jakarta: PT. Gramedia, 1987 ), 447.
[5] Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam ( Jakarta: Ciputat Pers, 2002 ), 66.
[6] Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008 ), 137 – 145.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar