Minggu, 08 Maret 2015

PENGERTIAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA



PENGERTIAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Sejarah dan pendidikan adalah dua hal yang penting yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan maju dan mundurnya sebuah peradaban, karena dengan sejarah kita dapat belajar dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan, sedangkan dengan pendidikan kita dapat meningkatkan sumberdaya manusia. Pendidikan islam mempunyai sejarah yang panjang, dalam pengertian yang seluas-luasnya, pendidikan islam berkembang seiring dengan munculnya islam itu sendiri.
        Oleh karena itu, mempelajari sejarah pendidikan adalah hal yang sangat penting, karena kita dapat menilai seberapa kemajuan pendidikan peradaban kita dari masa ke masa. Begitupun sejarah pendidikan di Indonesia mempunyai sejarah yang sangat penting untuk di ulas karena untuk menunjukkan bagaimana pengaruh yang diberikan islam di Indonesia, banyak diketahui bahwa indonesia mempunyai mempunyai kepercayaan yang sudah melekat pada masyarakatnyasebelum datangnya islam, namun islam datang untuk meluruskan kepercayaan mereka dengan memberikan pendidikan-pendidikan dan pengajaran karena pendidikan mengubah seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar. Islam datang dengan membawa perdamaian sehingga masyarakat Indonesia menerimanya dengan baik.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian sejarah pendidikan islam?
2.      Bagaimana sejarah masuknya islam di Indonesia?
3.      Bagaimana sejarah pendidikan islam di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian sejarah pendidikan islam
       Sejarah secara etimologi (arti bahasa) dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa Melayu, yang mengambil dari kata “al-syajarah” dari bahasa Arab, yang semula berarti pohon. Kemudian berkembang lagi, yang berarti silsilah, asal-usul, atau riwayat. Adapun secara terminologi menurut menurut Ibnu Khaldun sejarah ialah menunjuk kepada peristiwa-peristiwa istimewa atau penting pada waktu atau ras tertentu.[1] Sedangkan kata sejarah dalam bahasa Arab disebut tarih, yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedangkan menurut istilah berarti “keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau masa yang masih ada”.[2]
       Sedangkan pengertian dari pendidikan islam ialah pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari sejarah islam. Dari pengertian di atas Hasbullah mendefinisikan sejarah pendidikan islam sebagai: (1) catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari sejak lahirnya hingga sekarang ini. (2) cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep lembaga maupun operasionalisasinya sejak zaman Nabi Saw hingga sekarang.[3]
       Adapun sejarah pendidikan islam di Indonesia, maka ia merupakan sebuah pembahasan sejarah yang dipusatkan pada salah satu aspek pengalaman masa lampau manusia, yaitu pendidikan islam yang ada dan terjadi di Indonesia. Lebih spesifik lagi yaitu praktek pendidikan islam yang tumbuh  dan berkembang sejak masuknya islam ke Indonesia hingga sekarang.[4]
B.  Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
       Sejak awal mesehi Indonesia merupakan negara yang sering dilewati oleh pedagang-pedagang asing baik dari India, Cina, atau Timur Tengah. Seperti di Malaka dan wilayah barat nusantara sejak masa kuno wilayah ini menjadi titik perhatian pedagang asing dan menjadi daerah lintas penting.[5] Oleh karena itu, pedagang-pedagang muslim asal Arab telah sampai di kepulauan nusantara pada abad ke 2 S.M. Para pedagang muslim dari Persia dan India sampai di kepulauan Indonesia sejak abad ke 7 M.
       Islam telah menyebar dari Timur Tengah dan dari Afganistan menuju India maka islam menyebar dari berbagai wilayah India dan Arabia ke Semenanjung dan kepulauan Indonesia pada akhir abad ketiga belas, empat belas, dan lima belas.[6] Mengenai kedatangan islam ke Indonesia di bagi menjadi tiga teori besar. Pertama teori Gujarat, menyatakan bahwa yang membawa agama islam ke nusantara adalah dari Gujarat-India melalui peran para pedagang India muslim sekitar abad ke 13 M. Kedua teori Mekkah, menurut pandangan teori tersebut bahwa islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga teori Persia, islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.[7] Proses-proses penyebaran islam di Indonesia dilakukan dengan banyak cara, yaitu melalui perdagangan, perkawinan, politik, pedidikan, dan kesenian.[8] Adapun factor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada waktu itu adalah sebagai berikut:
1.      Agama islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dilakukan oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
2.      Penyiaran islam dilakukan dengan cara bijaksana dan cara yang sebaik-baiknya.
3.      Penyiaran islam itu dilakukan dengan perkataan yang mudah di pahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai golongan atas.[9]
C.  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
1.      Sejarah pendidikan islam di Sumatera
a.       Pendidikan islam di Minangkabau
       Menurut sebagian ahli sejarah, islam masuk ke Minangkabau kira-kira tahun 1250 M. ulama yang termasyhur sampai sekarang sebagai pembawa islam ke Minangkabau adalah Syekh Burhanudin yang dilahirkan di Sintuk  Pariaman tahun 1066 H/1646 M dan wafat tahun 1111 H/1691 M. Dia mengajarkan agama islam dan membuka madrasah (surau) tempat pendidikan dan pengajaran agama islam. Surau sebagai lembaga pendidikan lengkap atau besar merupakan komplek bangunan yang terdiri dari masjid, bangunan-bangunan untuk tempat belajar, dan surau-surau kecil yang sekaligus menjadi pemondokan murid-murid yang balajar disurau. Syekh Burhanudin mendirikan surau Ulakan yang kemudian dikembangkan diwilayah Darek, seperti Surau Koto Tuo (Tuanku Nan Tuo) Agam yang memiliki distingsi dalam bidang tafsir; Surau Kotogadang yang terkenal sebagi pusat ilmu mantiq dan ma’ani; Surau Sumanik, tersohor kuat dalam tafsir dan fara’id; Surau Kumang, terkenal kuat karena ilmu-ilmu bahasa Arab; Surau Talang dan Surau Salayo, keduanya terkenal dalam bidang Nahwu-Sorof.[10]

b.      Pendidikan islam di Jambi
       Jambi adalah salah satu daerah yang berpegang teguh pada ajaran islam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pesantren/madrasah di Jambi, seperti berikut:
1.      Pesantren/Madrasah Nurul Iman di Jambi
Pesantren ini didirikan pada tahun 1332 H oleh H. Abd. Samad. Pada mulanya sistem yang digunakan sama seperti pesantren-pesantren lainya, yaitu sistem halaqah. Namun, beberapa tahun kemudian memakai sistem klasikal, yaitu dalam pelaksanaan pengajarannya menggunakan ruang kelas, papan tulis, meja, bangku, dan sebagainya.
2.      Madrasah Sa’adatun Darain
Madrasah ini didirikan oleh H. Ahmad Syakur. Sistemnya, sama dengan madrasah Nurul Iman.
3.      Madrasah Nurul Islam
Madrasah ini didirikan oleh Kamas H. Muh. Shaleh.
4.      Madrasah Jauharain
Madrasah ini didirikan pada tahun 1340 H oleh H. Abd. Majid.
5.      Madrasah As’ad
Madrasah ini didirikan oleh K. Abd. Kadir pada tahun 1952. Sistemnya mengikuti sistem-sistem madrasah di Minagkabau. [11]
c.       Pendidikan islam di Sumatera Utara
       Pendidikan islam di Sumatera Utara ditandai oleh tumbuhnya berbagai pesantren dan madrasah yang cukup qualified dalam kader penerus cita-cita bangsa dan agama. Di antara pesantren yang terkenal adalah pesantren Syekh Hasan Ma’sum di Medan (1916 M), pesantren Syekh Abdul Wahab Sungai Lumut, dan lain-lain. Adapu madrasah yang terkenal adalah Madrasah Maslurah (1331 H/1912 M), Madrasah Aziziyzh (1923 M), dan sebagainya. Pesantren dan madrasah tersebut sudah mempraktikkan rencana pengajaran yang tersusun rapi memakai sistem klasikal dan bertingkat bagi madrasah, mempelajari kitab klasik bagi pesantren dan ilmu pengetahuan umum bagi madrasah.
d.      Pendidikan islam di Sumatera Selatan (Palembang dan Lampung)
       Sistem pengajaran di pesantren dan madrasah di Sumatera Selatan dalam hal pendidikan islam hampir sama dengan di Jawa,begitu pula kitab yang dipelajari.
2.      Sejarah Pendididkan Islam di Jawa
             Ajaran islam di Jawa tersebar dari pelabuhan dan bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dan luar negeri. Akibat hubungan ini, pedagang Indonesia mengetahui dan mendengar tentang ajaran islam dan juga tentang didikan islam melalui percakapan mereka sehari-hari. Disamping para pedagang, ada juga orang-orang yang sangat berjasa dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan ajaran islam di Pulau Jawa, yaitu  wali yang Sembilan atau terkenal dengan sebutan Wali Songo, yaitu:
1.      Maulana Malik Ibrahim, menyebarkan islam di daerah Jawa Timur, tepatnya daerah Gresik.
2.      Sunan Ampel, ia memusatkan dakwahnya di daerah Ampel Surabaya.
3.      Sunan Bonang, menyebarkan ajaran islam di Jawa Timur, Tuban dan mendirikan pusat agama islam di Tuban.
4.      Sunan Giri, mendirikan pusat pengajaran di Giri.
5.      Sunan Drajat, memusatkan daerah dakwahnya di Sedayu, Jawa Timur.
6.      Sunan Kudus, menyebarkan islam di daerah Kudus.
7.      Sunan Kalijogo, menyebarkan islam di daerah Demak.
8.      Sunan Muria, dalam dakwahnya lebih mencurahkam pada ajaran tasawuf.
9.      Sunan Gunung Djati, menyebarkan islam di daerah Jawa Barat, yaitu daerah Cirebon.

3.      Sejarah Pendidikan Islam di Maluku
             Pelaksanaan pendidikan di Maluku ketika itu telah maju di banding dengan daerah-daerah lainya karena telah didirikan beberapa pesantren dan madrasah yang lebih terorganisasi Madrasah di Ambon yang termasyhur ketika itu  adalah Madrasah Mahasinul Akhlak, yang telah banyak mengeluarkan para pemuda islam yang terjun langsung ke masyarakat sebagai guru dan pemimpin agama.
4.      Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan
             Pada tahun 1716 M di Kalimantan terdapat ulama besar bernama Syekh Arsyad Al-Banjari dari Desa Kalampayan yang terkenal sebagai pendidik dan mubaligh besar. Ia mempunyai pengaruh besar meliputi seluruh Kalimantan. Di Kalimantan terdapat madrasah-madrasah yang mengajarkan agama serta pelajaran umum. Madrasah-madrasah itu di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Pesantren/Madrasah di Kalimantan Barat (Pontianak)
Madrasah yang tertua di sini ialah Madrasatun Najah Wal Fatah di Sei Bakau Besar Mempawah, yang di dirikan tahun 1918.
b.      Sekolah Menengah Islam Pertama di Banjarmasin
Sekolah ini di dirikan tanggal 15 oktober 1946 di Banjarmasin (Kalimantan Selatan).
c.       Madrasah Normal Islam Amuntai (1928 M)
Madrasah ini di dirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdur Rasyid, tamatan Al-Azhar Mesir dengan nama Arabische School.
d.      Perkumpulan Ikatan Madrasah-Madrasah Islam (I.M.I) Amuntai[12]
5.      Sejarah Pendidikan Islam di Sulawesi
             Ajaran islam di Sulawesi sejak dahulu berkembang pesat. Pesantren banyak berdiri dan berkembang dengan pesat pula. Perkembangan itu mulai pesat sejak adanya alim ulama Bugis yang datang dari tanah suci Mekah, yang bermukim disana beberapa tahun lamanya. Syekh As’ad di Sengkang salah seorang yang berjasa dalam perkembangan pondok/pesantren. Sistem dan rencana pengajaran pesantren di Sulawesi hampir sama dengan sistem dan pengajaran pesantren di Sumatera dan Jawa, yaitu bersumber dari Mekkah. Kemudian berangsur-angsur didirikanlah madrasah-madrasah (sekolah-sekolah agama) yang memakai bangku, meja dan papan tulis (klasikal). Organisasi yang mula-mula mendirikan madrasah di Sulawesi, adalah organisasi Muhammadiyah, yaitu kira-kira tahun 1926 M. Adapun madrasah-madrasah di Sulawesi, di antaranya adalah berikut:
a.       Madrasah Amiriah Islamiah di Bone (Sulawesi Selatan Tahun 1933)
b.      Madrasah-Madrasah Islam di Sulawesi Tengah
1.      Madrasah Al-Khairat
2.      Madrasah Tarbiyah Islamiyah
3.      Madrasah Daru Dakwah Wal Irsyad (DDI)
6.      Sejarah Pendidikan Islam di Nusa Tenggara
Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H oleh H. Muhammad Zainuddin, seorang ulama’ besar di Pancor, Lombok Timur. Pada tahun 1943 M didirikan Madrasah Nahdlatul Banad Diniyah Islamiyah oleh K.H. Muhammad Zainuddin disamping Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah. Madrasah ini ditunjukan bagi murid-murid putri. Madrasah-madrasah tersebut mempunyai beberapa bagian, diantaranya:
a.       Tahdliriyah,
b.      Ibtidaiyah,
c.       Mu’allimin/mu’allimat,
d.      Bagian SMI,
e.       Bagian PGA.
f.       Pelajaran bagian Tahdliriyah dan Ibtidiyah dititikberatkan pada mata pelajaran agama islam. Adapu pada bagian Mu’allimin atau mu’allimat, pelajarannya 70% agama, dan 30% pengetahuan umum.[13]
















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      sejarah pendidikan islam sebagai: (1) catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari sejak lahirnya hingga sekarang ini. (2) cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep lembaga maupun operasionalisasinya sejak zaman Nabi Saw hingga sekarang.
2.      Kedatangan islam ke Indonesia di bagi menjadi tiga teori besar, yaitu:
a.       Teori Gujarat
b.      Teori Mekkah
c.       Teori Persia
3.      Sejarah pendidikan islam di Indonesia, diantaranya:
a.       Sejarah pendidikan islam di Sumatera
b.      Sejarah pendidikan islam di Jawa
c.       Sejarah pendidikan islam di Maluku
d.      Sejarah pendidikan islam di Kalimantan
e.       Sejarah pendidikan islam di Sulawesi
f.       Sejarah pendidikan islam di Nusa Tenggara



[1] Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Sejarah (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 1
[2] Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), 1.
[3] Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia (Malang: UMM Press, 2001), 18-19.
       [4] Kharisul Wathoni, Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Ponorogo: STAIN Po Press, 2011), 5.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2006), 193.
[6] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), 189.
       [7] Ahmad Mansyur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995), 73.
[8] Achmad Wahidi, Menjelajahi Peradaban Islam (Sleman: Pustaka Insan Madani, 2006), 25.
[9] Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, 210.                                                                                                 
[10] Kharisul Wathoni, Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 35-36.
[11] Ibid,. 38-40.
[12] Ibid., 40-48.
[13] Ibid., 50-53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar