Minggu, 14 Desember 2014

Dimensi pendidikan

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Manusia mempunyai kedudukan tertinggi diantara ciptaan Tuhan yang lainnya. Manusia mempunyai kekuatan dan keterbatasan yang dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Kemampuan tersebut merupakan awal dari penciptaan manusia. Manusia memiliki sifat hakikat yaitu karakteristik manusia yang membedakan dirinya dengan mahluk lainnya. Sifat hakikat inilah yang menjadi landasan dan arah dalam merencanakan hubungan pembelajaran. Oleh karena itu sasaran pendidikan adalah manusia yang berkemampuan untuk mengembangkan pendidikannya. Disebut hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki hewan. Itulah ciri khas manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan mempunyai kepribadian untuk mengetahui sifat-sifatnya. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: a) Apa yang dimaksud hakikat manusia? b) Bagaimana awal penciptaan manusia? c) Apa yang dimaksud dengan aspek kepribadian manusia? 3. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui: a) Untuk mengetahui apa yang dimaksud hakikat manusia. b) Untuk mengetahui awal penciptaan manusia. c) Untuk mengetahui wujud sifat hakikat manusia. PEMBAHASAN A. Hakikat Manusia Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal dari segala sesuatu. Menurut istilah, hakikat adalah inti dari segala sesuatu yang menjadi jiwa dari segala sesuatu. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah Swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifat dimuka bumi ini. Jadi hakikat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT atau seperangkat gagasan yang mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusia didunia. Untuk mencari hakikat manusia secara komprehensif adalah suatu hal yang sangat sulit. Hal ini tidak saja karena keunikan karakternya, tetapi juga karena sangat terbatasnya data dan kemampuan manusia untuk mengenal dirinya. Alexis Carrel seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menyebutkan, bahwa sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian besar untuk mengetahui tentang dirinya, namun manusia itu hanya mampu mengetahui sekelumit saja dari dirinya. Manusia secara sederhana dapat saja dikatakan sebagai makhluk Tuhan yang unik yang bermukmin di bumi yang memiliki karakteristik tersendiri yang membrdakan dirinya dari makhluk-makluk lain yang berada didunia. B. Penciptaan manusia Salah satu spesies makhluk hidup dibumi ini adalah manusia. Keberadaannya pertama kali dibumi ini tidak diketahui secara pasti. Sejarah panjangnya merupakan rangkaian peristiwa yang terputus-putus. Namun, sebagaimana kita pikirkan bahwa keberadaan bumi seharusnya mendahului keberadaan manusia sebagai penghuni diatasnya. Manusia sebelum berada diatas bumi manusia mengadakan eksodus dari tempat lain sebelumnya menuju ke bumi. Teori evolusi mengatakan bahwa alam ini termasuk manusia juga berkembang secara evolusionis ( berkembang secara perlahan ) dari makhluk yang sederhana berkembang menjadi makhluk yang lebih komplek. Prediksi kedepan, manusia terus akan berkembang menjadi bentuk yang lebih komplek. Golongan realisme (orang yang menganggap realitas bersifat bendawi ), golongan materialisme (orang yang menganggap alam ini merupakan wujud gerak mekanisme) dan atheis (orang yang tidak percaya kepada tuhan) berpandangan demikian. Bagi mereka yang paling utama bagi manusia adalah jasadnya, sedangkan jiwa atau rohaninya bersifat bendawi (bayangan dari jasmani). Hal ini sangat berbeda dengan yang anda pikirkan, bahwa manusia memiliki aspek yang berbeda antara jasmani dan rohani. Sedangkan menurut ahli agama mengatakan bahwa manusia tidak diciptakan di bumi dan bukan bagian dari sejarah panjang seperti dalam pandangan evolusionisme tadi. Manusia yang pertama diciptakan ditempatkan di surga (suatu tempat yang menjadi idaman para penganut agama dan ia berbeda dengan bumi ini) disebut dengan Adam. Dalam kitab suci Al- Qur’an disebutkan, bahwa ketika Tuhan hendak menciptakan manusia, dia berdialog dengan malaikat. Malaikat mempunyai persepsi buruk dengan hal itu. Akan tetapi Tuhan akan memberikan pengajaran kepadanya. Semuanya itu seperti tertulis dalam tafsir Qur’an surat Al–Baqarah ayat: 31. Tuhan telah menciptakan Adam di dalam surga dengan aturan tidak boleh mendekati dan memakan buah khuldi. Tetapi ketika Adam mendapatkan pasangannya yang bernama Hawa, dia tergoda oleh bujuk rayu pasangannya dan memakan buah larangan itu. Atas pelanggarannya tersebut Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke atas bumi. Jadilah mereka penghuni bumi yang pertama, kemudian dilanjutkan dengan anak keturunannya yang diciptakan dari sel – sel sperma dan ovum. Kehidupan Adam dan keturunannya memiliki peranaan besar dalam kehidupan bumi, mengelola, memanfaatkan dan melestarikannya. Peranan itu kemudian ditransformasikan kepada genersi berikutnya melalui pendidikan. Oleh karena itu pendidikan tidak pernah lepas dari manusia. Hubungan manusia dengan pendidikan bersifat simbiosis, manusia mengembangkan pendidikan dan pendidikan mengembangkan manusia dan kehidupannya. C. Aspek kepribadian manusia Aspek kepribadian manusia terdiri dari dua aspek: a. Aspek fisik manusia Pandangan satu pihak lebih menekankan pada realitas dan fungsi jasmani. Anggapan demikian keberadaan dan kehidupan manusia sangat ditentukan oleh fisiknya. Aspek jasmani yang terdiri atas benda tunduk pada hukum alam yang bekerja secara mekanik. Keberadaannya berasal dari alam dan bekerja menurut hukum alam. Semua yang dikerjakan manusia merupakan kausalitas alami tanpa campur tangan aspek lain. Manusia tidak bisa menahan diri atau menolak untuk menjadi tua, karena menjadi tua adalah hukum alam yag tidak bisa dihindari. Secara fisiologis ( jasmani ) keturunan manusia tercipta dari pencampuran antara sel sperma dan sel telur (ovum) dalam rahim seorang Ibu, sehingga kemudian menjadi gumpalan darah, gumpalan darah menjadi daging, daging membentuk tulang belulan sampai hari kelahirannya mencapai kelengkapan fisiologis untuk hidup. Hal itu terjadi secara alami. Namun, masih belum menjawab pertanyaan bagaimana manusia pertama diciptakan. Tentunya manusia pertama tidak berdiri dari pencampuran sperma dan ovum seperti keturunannya. Aspek fisik ini tak bisa lepas dari hukum-hukum alam. Banyak hal yang sudah kita ketahui tentang hukum alam yang berkenaan dengan fisik manusia, seperti halnya: mata untuk melihat, hidung untuk membau, telinga untuk mendengar, dan lain sebagainya. Namun masih ada fungsi fisik yang lainnya, yaitu untuk meneruskan (memberi keturunan) dengan cara berkembangbiak melalui fungsi biologis. Semua hal itu sudah kita pelajari di SD/ SMP/ maupun SMA, tentunya nanti Anda akan dapat membuat ringkasan tentang fungsi organ-organ dalam menunjang kehidupan manusia. b. Aspek psikis manusia Pandangan lain lebih menekankan pada aspek psikisnya atau ruhaninya. Perbuatan manusia secara lahir sangat dipengaruhi oleh aspek ruhaninya, karena aspek ruhani hanya bayangan dari realitas ruhani. Aspek ini dianggap telah ada sebelum manusia lahir ke dunia ini dan akan melanjutkan kehidupannya di akhirat nanti ketika jasadnya sudah meninggal dunia. Kehidupan ruhani yang telah mengalami kehidupannya sebelum hidup di dunia ini dan terus akan hidup secara ruhani walaupun jasadnya sudah mati adalah lebih penting. Oleh karena itu, aspek manusia tidak bersifat fisik semata sebagaimana dideskripsikan di atas. Menyebut diri sendiri dengan “aku”, adalah suatu bentuk dari adanya aspek psikis. “Aku” tersebut bukanlah yang bersifat fisik, karena fisik hanyalah bagian dari aku, seperti kepalaku, rambutku, hidungku, jantungku, dan lain-lain. Ketika bagian-bagian fisik itu terlepas dari Anda, maka Aku, Anda masih utuh, dan Anda masih dapat menyebut diri Anda dengan diriku. Diri Anda tidak hilang bersamaan dengan hilangnya bagian-bagian fisik itu, tetapi kalau seluruh tubuh itu hilang semua, maka Anda tidak dapat menyebut aku lagi. Dengan demikian, ada dimensi lain dari diri Anda yang tidak bersifat fisik, dan sering disebut dengan psikis (ruhani). Aspek ruhani manusia adalah sesuatu yang tidak bersifat fisik/materi (immateri). Secara fisik Anda terdiri dari tubuh dan beberapa organ tubuh dengan fungsinya masing-masing. Anda telah dapat menyebutkan organ-organ tubuh dan anggota tubuh Anda beserta fungsinya masing-masing. Bahkan barangkali Anda dapat menyebutnya lebih dari sekedar nama dan fungsinya, tetapi juga unsur-unsur fisika dan kimianya. Namun setelah Anda melihat tubuh Anda dengan kelengkapan organ dan anggotanya secara total, namun yakinkah bahwa itu diri Anda? Bagian–bagian tubuh atau organ-organ tubuh Anda yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan sehingga yang satu tidak merasakan keberadaan yang lain. Demikan pula alat penserapan Anda, seperti mata ditutup sehingga tidak melihat pada bagian mana pun dari tubuh Anda. Telinganya pun disumbat sehingga tidak mendengarkan apa pun. Demikian pula dengan alat-alat yang lain. Kalau Anda mau memperhatikan secara seksama, pada waktu itu masih ada sesuatu yang masih mengenal diri Anda melalui kesadaran Anda bahwa Anda ada. Ketika Anda sadar akan diri Anda, maka Anda mengetahui eksistensi Anda. Kesadaran itulah sebagai representasi Anda. Kesadaran itu bukan terletak pada fisik Anda, tetapi pada ruhani Anda. Dengan begitu maka sebenarnya pengetahuan terhadap aspek psikis Anda lebih rumit dibandingkan pengetahuan Anda terhadap aspek fisiknya.   PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Hakikat Manusia Hakikat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT atau seperangkat gagasan yang mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusia didunia. 2. Penciptaan manusia Salah satu spesies makhluk hidup dibumi ini adalah manusia. Keberadaannya pertama kali dibumi ini tidak diketahui secara pasti. Sejarah panjangnya merupakan rangkaian peristiwa yang terputus-putus. 3. Aspek kepribadian manusia Aspek kepribadian manusia terdiri dari 2 aspek: a. Aspek fisik manusia adalah pandangan satu pihak lebih menekankan pada realitas dan fungsi jasmani. b. Aspek psikis manusia adalah pandangan lain lebih menekankan pada aspek psikisnya atau ruhaninya.   DAFTAR PUSTAKA Kadir, Abdul dkk. Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya: Amanah Pustaka, 2009 Muhmidayeni. Filsafat Pendidikan. Bandung: Revika Aditama, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar